Menjalani peran sebagai praktisi budaya sekaligus mahasiswa bukanlah perkara mudah. Namun, bagi Daniel Tua Ompusunggu, komitmen dan disiplin menjadi fondasi utama dalam menyelaraskan pengalaman lapangan dengan penguatan akademik. Mahasiswa Program Studi S1 Pariwisata Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Terbuka (FEB UT) – UT Medan ini membuktikan bahwa pendidikan dan pengabdian dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan.
Daniel baru saja menyelesaikan perannya sebagai delegasi Misi Budaya Batak ke Eropa dalam program Misi Budaya Batak dan Pariwisata Berbasis Masyarakat Jabu Sihol. Misi ini menjadi langkah konkret dalam membawa nilai-nilai budaya Batak ke panggung internasional sekaligus memperkenalkan praktik pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan.
Dalam kesehariannya, ia mengabdikan diri sebagai konsultan pariwisata (tourism consultant), Master of Ceremony (MC), serta fasilitator desa, sekaligus mengelola Jabu Sihol, sebuah ruang pelestarian dan edukasi budaya Batak. Keterlibatannya dalam misi budaya ke Eropa mencerminkan komitmen jangka panjangnya untuk membangun jejaring lintas negara di bidang kebudayaan dan pariwisata berkelanjutan.
Meski telah memiliki pengalaman lapangan yang luas, Daniel merasa pendidikan akademik tetap menjadi pondasi utama. “Motivasi saya melanjutkan pendidikan adalah untuk membekali diri dengan landasan pengetahuan akademik yang kuat sebagai seorang praktisi,” ungkapnya. Ia ingin agar praktik pelestarian budaya harus ditopang oleh pemahaman teoritis dan metodologis agar dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah serta memberi dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Misi budaya yang berlangsung pada 17–30 November 2025 tersebut dilaksanakan di Italia, Denmark, dan Belanda dengan tujuan memperkenalkan budaya Batak serta konsep pariwisata berbasis komunitas kepada masyarakat internasional melalui pertunjukan seni, workshop, diskusi akademik, dan media.
- Di Roma, Italia (17–21 November 2025), Daniel terlibat dalam kolaborasi Konser Kebudayaan bersama PSM Universitas Padjadjaran. Penampilan tersebut menjadi sarana diplomasi budaya dalam memperkenalkan kekayaan budaya Batak serta praktik pariwisata berbasis komunitas kepada publik internasional.

- Perjalanan dilanjutkan ke Denmark (21–24 November 2025) melalui kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Denmark. Pada kesempatan ini, Daniel berpartisipasi dalam kegiatan pengenalan pariwisata berbasis masyarakat di Jabu Sihol serta memfasilitasi workshop penulisan aksara Batak bagi peserta dan komunitas setempat.

- Selanjutnya di Belanda (24–30 November 2025), Daniel mengikuti berbagai agenda budaya dan akademik. Pada 26 November 2025, ia terlibat dalam kegiatan bersama Indonesia House Amsterdam (IHA) dan komunitas Bona ni Pasogit yang berfokus pada promosi pariwisata berbasis masyarakat dan workshop aksara Batak. Pada 29 November 2025, Daniel turut serta dalam diskusi budaya dan workshop aksara Batak di Universitas Leiden, serta menjadi narasumber dalam podcast budaya Radio Voks, Amsterdam.

Daniel menyampaikan bahwa keputusannya melanjutkan studi di Universitas Terbuka didorong oleh keinginan untuk memperkuat praktik pelestarian budaya dengan kerangka akademik yang sistematis. Ia menilai pendidikan tinggi memberikan ruang refleksi, analisis, dan pengembangan gagasan agar praktik kebudayaan dan pariwisata yang dijalankan tidak berhenti pada aktivitas, tetapi berkembang menjadi kontribusi ilmiah dan sosial.
Berbagi pengalamannya sebagai mahasiswa UT sekaligus praktisi, Daniel menekankan bahwa kuliah di Universitas Terbuka menuntut kemandirian dan konsistensi. Ia menilai keberhasilan belajar di UT bukan ditentukan oleh banyaknya waktu luang, melainkan oleh disiplin kecil yang dilakukan secara berkelanjutan, seperti membaca rutin, mencicil tugas, dan tidak menunda pekerjaan meski memiliki kesibukan. Ia juga berpesan kepada seluruh mahasiswa Universitas Terbuka agar tidak menunggu kondisi ideal untuk belajar. Menurutnya, UT mengajarkan mahasiswa untuk jujur pada tujuan, mampu mengatur diri sendiri, dan bertanggung jawab atas proses belajar.
“Hubungkan perkuliahan dengan kehidupan nyata, karena UT memberi ruang besar bagi mahasiswa untuk belajar sambil bekerja, mengabdi, dan berkarya,” ujarnya.
Melalui semangatnya, Daniel Tua Ompusunggu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa Universitas Terbuka lainnya untuk terus berprestasi, mengembangkan potensi diri, serta membawa nilai-nilai lokal Indonesia ke panggung global melalui pendidikan dan pengabdian nyata.




